rosso fiammante
0 | Reblog

So it started when I saw you near the stair, your friends were laughing so hard, you just stood behind.

The first thing that came into my mind was ‘Your face looks familiar

Hey, have we ever met before?

If so, did you knew me? Did you ever asked one of your friend, ‘Who is that girl? The one with wavy hair and oversized jacket?’

I never figured out your name until two weeks ago.

I honestly never felt so attracted to you before this year came.

But everytime you walked across my ex class, my eyes would follow your figure.

I wonder why… Maybe that’s one of unreasonable facts that now led me to like you.

You rarely smile.

Blue suits you. Perfectly.

I think you looked better with short hair.

You should play football more often, I’d like to see you play.

I wonder if you’ll be happy that there’s a girl out there, having the same hobby and favorite football club like you.

Hey. I just figured out that our handphones have the same color, it’s white.

I tried my best to smile whenever our eyes met. But I always end up not knowing if you respond my smile or not. Because my eyes can’t stand it if you respond coldly.

The floor seems to be 100 times more interesting… Now I’m staring at it.

Duh, I’m such a coward.

You probably think I’m a weirdo.

But you know, it’s you who made me like this now.

.

.

So it started when I saw you near the stair, your friends were laughing so hard, you just stood behind.

The first thing that came into my mind was ‘Your face looks familiar

0 | Reblog

Sewaktu kamu berlarian di tengah lapangan, peluh bercucuran, seragam putih-abu kusam oleh debu, aliran peluh membasahi pelipismu.

Aku duduk di tepi, kaki disilangkan, aku ingin menonton (memperhatikanmu)

Panas hari itu menyengat sekali, bulir keringat jatuh dari pucuk kepalaku. Berkali-kali kuusap muka dengan lengan jaket tua yang kupakai, aku tidak ingin terlihat tidak menarik jika ada kamu.

.

Sewaktu kamu menghampiri tepi lapangan, bajumu setengah basah oleh keringat, mukamu merah padam dan beberapa tetes peluh mengalir sampai ke dagu.

Kalau aku kenal kamu, aku pasti sudah hampiri kamu, menawarkan selembar tissue atau titipan untuk sebotol minuman kesukaanmu.

Tapi kamu tidak kenal aku, ya kan?

Makanya, aku diam disini. Cuma bisa ikut tersenyum waktu kamu tertawa bersama teman-temanmu.

.

Sewaktu kamu ada di atas sana, aku ada di bawah.

Sesekali mencuri pandang ke atas, kamu ingat tidak kalau pandang kita pernah bertemu?

Satu, dua, atau tiga detik aku tidak tahu. Aku langsung menatap lantai oranye karena malu.

Sebenarnya, di otakku ada gambaran semu..

Kalau kamu tersenyum balik ke arahku, ilusikah itu?

.

Sewaktu yang kunantikan.

Kita sudah tahu masing-masing nama.

Bercanda dan berbagi duka.

Bicarakan warna kesukaan, lirik lagu yang terlupakan, dan sepakbola dan masa lalu (dimana kau adalah objek pengamatan delapan meter didepan—terhalangi oleh pohon palem)

…masa lalu (dimana aku menatap lurus, pandangan kosong, senyuman kecil tersungging di bibir, delapan meter didepan—terhalangi oleh pohon palem dan kau tahu)

0 | Reblog

"

jika aku harus mengakui semuanya, akankah kamu menerima fakta bahwa kamu dipuja, disanjung, dicintai, dipikirkan dan dimimpikan setiap malam, diperdebatkan dalam banyak obrolan, diawasi setiap saat, dicemaskan setiap jatuh sakit, ditertawakan saat sedang konyol, didoakan setiap awal hari, diingat di berbagai momen, dan diselimuti oleh kekuatan cinta tak tampak?

Thiea Arantxa


0 | Reblog

Open the book, flip the page, a new dawn arises

It is a Magical B E G I N N I N G

F R O M   Y O U

Punggung pegal. Kepala terasa berat, ngantuk. Aku ngantuk.

Rambut mencuat kesana-kemari, tidak teratur. Aku tak peduli.

Berdiri bersandar pada pagar, disamping tangga yang baru-baru ini sering dipijaki.

Kesal. Letih. Itu yang kurasakan.

Lapar? Aku tidak lapar.

Garuk rambut, berbalik, menghadap jendela.

Menatap. Menatap siapa? Menatap mereka—cowok-cowok kelas sepuluh.

Cowok-cowok seumuran denganku.

Mereka…

Terlalu rapih. Terlalu gamer. Terlalu sengak. Terlalu anak geng. Terlalu tidak merawat wajah.

Terlalu berisik. Terlalu gajelas.

Terlalu—

Terlalu..

Semuanya terlalu…!

.

.

Lalu…

.

Ada kamu.

Kamu tidak terlalu tinggi. Meski ada setidaknya tujuh puluh lima persen siswa lain yang tingginya masih dibawahmu.

Mata kamu tidak besar seperti yang kupunya. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang seakan menyuruhku untuk menatap iris cokelat tua milikmu. Ya, mata kamu punya sihir itu.

Heem, kaki kamu panjang, tapi tidak kurus. Aku suka.

Rambut kamu terpotong rapi, tidak digaya aneh-aneh. Aku suka..

Kemeja yang lurus, tidak kusut, tidak kekuningan. Aku suka…

Kamu menali tali sepatumu, berjongkok terlebih dahulu, lalu bangkit dan menepuk bokong temanmu dengan kedua telapak tangan.

Aku mengangkat alis.

… lalu tertawa pelan sambil menatap temanku dengan pandangan penuh arti.

.

.

.

Kamu tahu? Ini sudah keberapa kalinya aku melihatmu. Tidak, aku belum sering-sering melongok ke arahmu. Terhitung lebih lima kali pun tidak.

Tapi akhir-akhir ini, kamu selalu membuat kepalaku berputar dan menoleh. Menatap kamu lalu menunduk ragu. Apa tidak apa-apa kalau aku memandangimu lama?

Aku takut kamu balas menatap dan menganggapku orang aneh.

Jangan kira aku orang aneh yaa!

Aku bukan semacam freak atau apa… tapi kamu memang spesial di lorong koridor ini.

Karena ketika ada kamu, meski kakak kelas yang paling tampan lewat dengan jarak hanya sepuluh inci dariku pun, aku tidak peduli.

Ketika ada kamu, aku sibuk mencari jaketku—atau kain, atau buku, atau apalah—untuk menutupi mukaku takut-takut kamu mendapatiku menatapi figurmu—aku tidak ingin dibilang mesum ya, tapi hei… badan kamu itu bagus… dan itu pujian! Aku memang sedari dulu menyukai seni dari postur tubuh seseorang.

Ketika ada kamu, senyum merekah di bibirku.

Ketika ada kamu, perutku terasa geli seakan-akan ada kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya.

Aku begitu… ketika ada kamu,

Apa kamu tahu artinya, hei?

Di tepian lorong koridor bercat kuning yang kotor oleh cap sepatu, kamu mengambil sebagian hati dan pikiranku untuk memikirkanmu setiap harinya setelah hari ini.

.

-Entry ini khusus kupersembahkan untuk Kokobodi-