rosso fiammante
0 | Reblog

"

jika aku harus mengakui semuanya, akankah kamu menerima fakta bahwa kamu dipuja, disanjung, dicintai, dipikirkan dan dimimpikan setiap malam, diperdebatkan dalam banyak obrolan, diawasi setiap saat, dicemaskan setiap jatuh sakit, ditertawakan saat sedang konyol, didoakan setiap awal hari, diingat di berbagai momen, dan diselimuti oleh kekuatan cinta tak tampak?

Thiea Arantxa


0 | Reblog

Detik di mana ia membaca malam adalah saat di mana ia menyadari, tidak ada hal yang benar-benar berubah sebagaimana tidak ada hal yang benar-benar sama seperti kali pertama.

Pada langit yang menyembunyikan bintang-bintang dalam sebuah mihrab yang tersketsa dari pekat kabut, ia telah melihat bahwa, kadang satu luka mampu mengaburkan seribu rasa suka cita. Seperti setetes bisa yang mengacaukan tenang pada telaga.

Memutar memorinya, ia mendapati dirinya tengah berbicara pada kerlip bintang yang membentang sepanjang garis semesta malam. Dan jemari lembut itu menyusupi celah jari-jarinya. Menautkan getar hangat dalam geliat kasmaran yang menggoda. Ia tidak sendiri… Saat itu, ia tidak sendiri.

Kembali pada waktu ia berdiri kini, semuanya tak lagi sama. Tak ada bintang-bintang itu. Tak ada jemari lembut yang menyuarakan kehadiran seseorang itu… Tapi, masih ada rasa yang sama… Rasa yang sudah ternoda oleh gores luka… Bukankah semuanya menegaskan, telah ada yang hilang dan tak kembali?

Detik di mana ia tertunduk dari matahari adalah saat di mana ia mengakui, hari telah berganti, tapi hatinya enggan menyertai.

Pada tumpukan sebersih kapas yang berarak sunyi, ia telah memahami bahwa dunia tak pernah berdiam pada garis yang sama. Meski langit tak bertukar warna dengan laut, meski matahari dan bulan tak berganti posisi, meski senja dan pagi tak akan pernah saling bertemu, segalanya merupa beda pada detik yang tak satu.

“Bagaimana bila cinta enggan pergi?”

“Maka biarkan ia tetap mendiami hatimu…”

“Lalu bagaimana bila kau yang pergi?”

“Tidak akan…”

“Namun bila itu harus terjadi, bagaimana?”

“Rasamu pun akan turut berlalu.”

“Tidak semudah itu berlalu…”

“Ikhlaskan kepergianku…”

“Dan rasaku…?”

“Aku tak menemukan jawabannya.”

“Bila aku merindukanmu?”

“Kenang aku.”

“Bila itu menyakitkan, bukan menyembuhkan?”

“Maka, jangan biarkan ia menyakitimu lebih dalam.”

“Tapi cinta telah lebih dulu mengubahku menjadi masokis…”

Cinta hanyalah cinta. Sebuah rasa yang begitu sederhana mendiami tempat bernama hati. Namun sering kali manusia merumitkan diri untuk bisa menjadikan segalanya terasa sempurna tanpa ingin terluka… Tanpa ingin ada air mata… Tanpa ingin ada yang tiada…

“Kadang, hal yang paling kau inginkan di dunia ini adalah hal yang harus kau relakan untuk… Dilepaskan.”

“Mengapa demikian?”

“Karena berharap segalanya indah dan bahagia adalah tidak mungkin. Kadang, untuk bisa mendapatkan kebahagiaan itu, kau harus mengorbankan orang lain untuk terluka… Atau sebaliknya. Kau harus terluka demi kebahagiaan orang lain…”

“Apa yang menjadi kebahagiaanmu?”

“Kau… Tapi itu dulu.”

“Jadi, kepergianku dari hidupmu adalah kebahagiaanmu sekarang?”

“Jika kau membodohkan diri untuk abai pada hatimu sendiri… Maka, iya!”

“Kau mendapatkan kebahagiaanmu lalu aku harus terluka karenamu, itu tidak adil…”

“Sama tidak adilnya bila aku harus bertahan denganmu untuk membuatmu bahagia tapi aku tersakiti…”

Karena setiap hati berhak memilih apa yang baginya dirasa lebih baik. Meski itu menjadi lara bagi hati yang lain. Dan pada detik yang berbeda, segalanya mampu berubah… Berpunggungan dengan rasa yang pernah terkecap sebelumnya.

“Aku benci cinta.”

“Itu tidak memberikanmu apapun kecuali perasaan tersiksa yang tidak semestinya ada. Kau bukan benci pada rasa bernama cinta. Kau hanya takut terluka karena cinta…”

“Mungkin benar.”

“Cinta hadir dan cinta pergi. Sebenarnya bukan cinta itu yang beranjak dari hidupmu, tapi orang-orang yang kau cintai, sementara rasa cinta akan selalu ada selama kau masih punya hati… Selama kau paham naluri insani… Ketika seseorang yang kau cinta pergi, akan ada detik di mana kau berkata ‘Aku sudah tak mencintaimu lagi… Dan kau sudah terganti dengan yang lain’ Sesungguhnya, cinta itu masih ada, tapi tak sebesar dahulu kala. Ia terkikis dengan kehadiran cinta yang baru. Dan setiap orang yang pernah menempati hatimu, sebenarnya ia tak pernah terganti. Kehadiran seseorang yang baru hanya akan menciptakan ruang baru, bukan mengganti seutuhnya yang pernah ada…”

Detik di mana ia mengeja cinta dalam rangkuman luka serta tawa adalah detik di mana ia menyadari…

Sebagaimana cinta mampu melukai,

Ia pun sanggup mengobati…

FIN

source : here

0 | Reblog

"

Sesungguhnya, cinta itu masih ada, tapi tak sebesar dahulu kala. Ia terkikis dengan kehadiran cinta yang baru. Dan setiap orang yang pernah menempati hatimu, sebenarnya ia tak pernah terganti. Kehadiran seseorang yang baru hanya akan menciptakan ruang baru, bukan mengganti seutuhnya yang pernah ada…

NessVida @ fictionpress